Panduan memilih CNG atau LPG sebagai pengganti solar untuk pabrik, mulai dari perhitungan kebutuhan hingga proses instalasi.

Ditengah harga solar yang fluktuatif, mulai banyak pabrik yang mencari alternatif pengganti solar karena biaya-nya yang makin besar dan konsumsi sudah terlalu banyak dalam satu periode.
Ketika sudah ada di level ini, pertimbangannya bukan lagi sekadar mencari bahan bakar dengan harga lebih murah.
Anda juga perlu memastikan semua mesin tetap running dengan supply pasokan bahan bakar tersedia sesuai jadwal produksi, dan proses konversi tidak menimbulkan downtime yang panjang.
Kalau saat ini pabrik Anda menggunakan solaruntuk boiler, oven, dryer, furnace, atau mesin pemanas lainnya, Anda bisa mempertimbangkan CNG dan LPG sebagai penggantinya.
Namun, sebelum memilih jenis gas, ada satu hal yang perlu Anda periksa lebih dahulu, yaitu mesin yang saat ini menggunakan solar.
Solar bisa memenuhi berbagai kebutuhan industri, mulai dari mesin diesel sampai boiler. Anda bisa melihat beberapa contoh penggunaannya dalam penjelasan Pertamina mengenai bahan bakar industri.
Kalau solar digunakan untuk menghasilkan panas, proses konversinya biasanya berpusat pada burner. Tim teknis akan memeriksa apakah boiler atau mesin lama masih layak digunakan, lalu menentukan apakah oil burner perlu diganti dengan gas burner atau dual-fuel burner.
American Boiler Manufacturers Association menjelaskan bahwa boiler memindahkan panas dari hasil pembakaran ke air untuk menghasilkan steam. Jadi, Anda belum tentu harus mengganti seluruh boiler. Selama desain ruang bakar, kapasitas, dan kondisi equipment masih mendukung, tim bisa mempertahankan boiler dan menyesuaikan sistem pembakarannya.
Pendekatan ini tidak berlaku untuk genset. Mesin diesel tidak bisa langsung menggunakan gas hanya dengan mengganti jalur bahan bakarnya. Menurut Cummins, mesin natural gas menggunakan sistem pembakaran yang berbeda. Untuk genset, Anda perlu mempertimbangkan sistem dual-fuel, konversi engine khusus, atau menggantinya dengan gas genset.
Karena itu, Syntera biasanya akan cek teknis sistem gas. Tim perlu memahami equipment dan proses produksinya lebih dahulu sebelum merekomendasikan CNG atau LPG.
Setelah memastikan mesin bisa menggunakan gas, barulah Anda dapat membandingkan CNG dan LPG.
CNG lebih cocok untuk pabrik dengan pemakaian energi yang besar dan relatif stabil. Supplier mengirim gas menggunakan tube skid, kemudian PRS menurunkan tekanan gas sebelum mengalirkannya ke burner. Karena itu, pabrik perlu menyiapkan ruang untuk tube skid, PRS, jalur high-pressure piping, dan akses kendaraan pengiriman.
Jika konsumsi pabrik berjalan rutin sepanjang hari, sistem CNG bisa memberikan supply yang stabil. Syntera menjelaskan kebutuhan infrastrukturnya lebih lanjut melalui halaman CNG untuk pabrik.
Sementara itu, LPG menawarkan pengaturan supply yang lebih fleksibel. Pabrik bisa menggunakan tabung manifold atau bulk tank, tergantung jumlah konsumsi dan kebutuhan gas per jam. Pada beban yang tinggi, tim teknis mungkin juga perlu menambahkan vaporizer agar suplai gas tetap mengikuti kebutuhan burner.
Pola ini membuat LPG 50 kg unuk industri cocok untuk pabrik yang belum membutuhkan sistem CNG berskala besar, memiliki keterbatasan ruang, atau ingin melakukan konversi secara bertahap.
Jadi, pilihan antara CNG dan LPG tidak hanya bergantung pada harga. Anda juga perlu melihat jam operasi, peak load, lokasi pabrik, ruang instalasi, akses pengiriman, dan rencana pasokan cadangan.
Setelah mengumpulkan data konsumsi, tim mulai memeriksa kondisi di pabrik. Mereka melihat posisi boiler, jalur pipa yang memungkinkan, area penyimpanan gas, ventilasi, serta akses keluar-masuk kendaraan.
Dari hasil survey tersebut, tim menyusun desain sistem. Pada instalasi CNG, desain mencakup tube skid, PRS, metering, high-pressure piping, dan jalur gas menuju burner. Pada instalasi LPG, tim menghitung jumlah tabung atau kapasitas tangki, manifold, regulator, serta kebutuhan vaporizer.
Tim kemudian memasang atau menyesuaikan burner. Tahap ini membutuhkan perhitungan yang tepat karena burner harus menghasilkan panas sesuai kebutuhan mesin. US Department of Energy menjelaskan bahwa pengaturan campuran udara dan bahan bakar memengaruhi efisiensi pembakaran. Jika campurannya tidak tepat, api bisa tidak stabil dan konsumsi gas meningkat.
Setelah menyelesaikan pemasangan, tim menjalankan pressure test, leak test, dan purging. Mereka juga memeriksa valve, alarm, emergency shutdown, serta flame interlock sebelum menyalakan burner.
Barulah proses commissioning dimulai. Teknisi menyalakan burner secara bertahap, mengatur rasio udara dan gas, lalu mengamati temperatur serta kestabilan api pada beberapa tingkat beban. Proses ini memastikan mesin tidak sekadar menyala, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan produksi.
Syntera menangani instalasi pipa CNG industri dari area PRS sampai titik pemakaian. Untuk sistem berbasis tabung atau bulk tank, tim juga menyesuaikan instalasi pipa LPG dengan layout dan kapasitas pabrik.
Setelah mesin kembali beroperasi, pabrik tetap perlu mengatur jadwal supply, stok cadangan, inspeksi berkala, dan prosedur darurat.
LPG dan CNG juga membutuhkan penanganan yang berbeda. NIOSH menjelaskan bahwa propane lebih berat daripada udara. Karena itu, tim perlu memperhatikan ventilasi dan area rendah di sekitar instalasi LPG. Pada sistem CNG, tim lebih banyak menangani risiko tekanan tinggi pada tube skid, PRS, dan jalur piping.
Tim juga perlu menyesuaikan desain dengan standar yang relevan, termasuk SNI 9055-1:2022 dan ketentuan pemeriksaan keselamatan instalasi migas.
Dari sisi pasokan, pabrik sebaiknya tidak menunggu skid atau tabung hampir kosong sebelum memesan ulang. Syntera membantu menyusun jadwal pengiriman gas dan pasokan darurat berdasarkan pola konsumsi, sehingga tim Anda bisa merencanakan pergantian supply tanpa menghentikan produksi.
CNG layak Anda pertimbangkan jika pabrik menggunakan energi dalam jumlah besar dan stabil serta memiliki ruang untuk tube skid. LPG bisa lebih praktis ketika konsumsi lebih fleksibel, akses pengiriman CNG terbatas, atau perusahaan ingin memulai konversi dengan sistem yang lebih sederhana.
Apa pun pilihannya, mulailah dari data operasional. Catat konsumsi solar, periode pemakaian, jam kerja mesin, peak load, serta spesifikasi burner. Dari data tersebut, Syntera dapat membantu menghitung kebutuhan gas dan memeriksa kesiapan lokasi Anda.
Dengan begitu, keputusan beralih dari solar tidak hanya terlihat menarik di atas kertas. Sistemnya juga benar-benar siap digunakan untuk kegiatan produksi sehari-hari.
Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan solusi pengiriman gas yang stabil, aman, garansi 100% dan responsif 24/7.