Aug 18, 2026

Apakah Konversi Solar ke CNG Bisa Menurunkan Emisi Pabrik?

CNG menghasilkan emisi CO₂ pembakaran lebih rendah daripada solar. Pelajari potensi penurunannya dan persiapan teknis sebelum pabrik melakukan konversi.

Apakah Konversi Solar ke CNG Bisa Menurunkan Emisi Pabrik?

Emisi gas rumah kaca dari sektor industri Indonesia mencapai 238,05 juta ton CO₂e pada 2022. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa 64% emisi tersebut berasal dari penggunaan energi.

Artinya, bahan bakar yang dipakai untuk menjalankan boiler, oven, dryer, furnace, dan mesin produksi ikut menjadi perhatian saat perusahaan mulai menargetkan penurunan emisi.

Bagi pabrik yang masih mengandalkan solar, dampaknya cukup besar.

Berdasarkan nilai kalor dan default emission factor IPCC, pembakaran satu ton solar menghasilkan sekitar 3,19 ton CO₂. Jadi, kalau pabrik menghabiskan 5-6 ton solar dalam satu periode, emisi pembakaran langsungnya bisa mencapai sekitar 15,9–19,1 ton CO₂.

Padahal, solar yang dibakar oleh boiler, oven, dryer, atau furnace menghasilkan emisi langsung dari aktivitas pabrik. Dalam pelaporan gas rumah kaca, emisi ini termasuk Scope 1 karena berasal dari sumber yang perusahaan operasikan sendiri.

Lalu, apakah beralih dari solar ke CNG bisa membantu menurunkannya?

Jawabannya, bisa. Untuk energi bahan bakar yang setara, CNG menghasilkan emisi CO₂ pembakaran yang lebih rendah daripada solar. Namun, CNG tetap menghasilkan karbon sehingga perpindahan ini lebih tepat disebut sebagai langkah awal dekarbonisasi, bukan solusi bebas emisi.

Kenapa Pembakaran CNG Menghasilkan Emisi Lebih Rendah?

Solar dan CNG sama-sama berasal dari energi fosil, tetapi keduanya memiliki kandungan karbon yang berbeda.

Berdasarkan default emission factor dalam pedoman IPCC untuk pembakaran stasioner, diesel oil menghasilkan sekitar 74.100 kilogram CO₂ untuk setiap terajoule energi. Sementara itu, natural gas menghasilkan sekitar 56.100 kilogram CO₂ untuk jumlah energi yang sama.

Selisihnya mencapai kurang lebih 24%.

Artinya, kalau pabrik menghasilkan kebutuhan energi yang sama dengan mengganti solar menjadi CNG, emisi CO₂ dari pembakaran langsungnya berpotensi ikut turun. Ini juga menjelaskan kenapa fuel switching mulai masuk dalam strategi penurunan emisi industri.

Menurut WRI Indonesia, sekitar 46% emisi manufaktur berasal dari energi yang dibangkitkan langsung. Karena itu, mengganti bahan bakar berintensitas karbon tinggi menjadi bahan bakar dengan intensitas lebih rendah dapat memberi dampak yang cukup berarti, terutama pada pabrik yang mengoperasikan boiler atau mesin pemanas dalam waktu panjang.

Apakah Beralih ke CNG Sudah Cukup untuk Dekarbonisasi?

Belum. CNG masih menghasilkan CO₂ dan rantai pasoknya juga memiliki risiko emisi metana.

International Energy Agency mencatat bahwa natural gas dapat menghasilkan emisi metana pada proses produksi, pengolahan, dan distribusinya. Karena metana memiliki dampak pemanasan yang kuat, kebocoran di sepanjang supply chain dapat mengurangi sebagian manfaat iklim dari peralihan bahan bakar.

Yang lebih tepat adalah CNG merupakan bahan bakar dengan emisi pembakaran lebih rendah daripada solar, sekaligus salah satu pilihan transisi untuk pabrik yang belum bisa langsung menggunakan energi terbarukan atau elektrifikasi.

Untuk mencapai dekarbonisasi yang lebih dalam, perusahaan tetap perlu menggabungkan fuel switching dengan efisiensi energi, pengaturan burner, heat recovery, perawatan equipment, dan pengurangan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan.

Dari Perhitungan Emisi ke Rencana Konversi

Setelah mengetahui potensi penurunannya, langkah berikutnya bukan langsung memasang CNG. Anda perlu memastikan boiler atau mesin memang kompatibel, lalu menghitung kebutuhan gas per jam dan menyiapkan sistem supply yang sesuai.

Syntera akan menganalisa dari data konsumsi, jam operasi, jenis burner, kebutuhan temperatur, dan lokasi pabrik. Setelah itu, tim dapat menentukan kapasitas tube skid, Pressure Reducing System, jalur pipa, metering, serta kebutuhan backup agar produksi tetap berjalan saat pergantian supply.

Anda dapat mempelajari sistemnya melalui layanan CNG untuk kebutuhan pabrik dan instalasi pipa CNG industri. Kalau datanya sudah tersedia, Syntera juga bisa membantu menjalankan konsultasi teknis gas untuk menghitung kebutuhan awalnya.

Beralih dari solar ke CNG memang belum membuat pabrik bebas karbon.

Namun, langkah ini dapat menurunkan emisi pembakaran langsung sekaligus membuka jalan menuju penggunaan energi yang lebih efisien. Yang terpenting, perusahaan menghitungnya berdasarkan data aktual dan memastikan sistem baru tetap memenuhi kebutuhan produksi.

Give Us A Call - Movers X Webflow Template

Siap Kirim Gas, Kapan Pun Anda Butuh

Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan solusi pengiriman gas yang stabil, aman, garansi 100% dan responsif 24/7.

Your message has been submitted.
Let's connect on WhatsApp to get the fastest response.
Oops! Something went wrong.

Mengikuti SNI, ISO & Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.